Kawakibul Fushoha

Menyambung Kisah, Merawat Tradisi: Potret Hangat Silaturahmi Iduladha di Kawakibul Fushoha

Indo,Kegiatan

Gema takbir yang bersahut-sahutan di seluruh penjuru Kairo menandai datangnya Hari Raya Iduladha 10 Zulhijjah 1447 Hijriyah, atau yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 2026 Masehi. Bagi masyarakat Mesir, antusiasme merayakan hari suci ini begitu terasa lewat sudut-sudut jalanan yang semarak. Begitu pula dengan kami, para mahasiswa Al-Azhar anggota asrama Kawakibul Fushoha, yang menyambut momentum setahun sekali ini dengan penuh kekhusyukan dan rasa syukur di asrama tercinta.

Sebagai penuntut ilmu, rangkaian ibadah kami tidak dimulai di hari raya, melainkan sejak hari-hari sebelumnya melalui bimbingan spiritual dari guru kami, Syekh Syarafuddin al-Azhari. Kami mengawali kekhusyukan dengan menghidupkan puasa sunah Arafah pada 9 Zulhijjah 1447 H (26 Mei 2026 M), sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan meraih ampunan-Nya. Keesokan harinya, tepat di hari raya, langkah kaki kami beriringan menuju Masjid al-Khozan untuk melaksanakan ibadah salat Iduladha bersama, dilanjutkan dengan momen kebersamaan yang hangat antarsantri.

Berbeda dengan lini masa biasanya, agenda utama penyembelihan hewan kurban kali ini dilaksanakan sehari setelah hari raya, tepatnya pada Senin, 11 Zulhijjah 1447 H atau 28 Mei 2026 M. Di bawah komando kepanitiaan yang dikoordinasi oleh Al-Ustadz Muhammad Dzakwan dan Nabil Fizhilal, halaman asrama mendadak riuh oleh derap langkah gotong royong anggota yang saling bahu-membahu. Tahun ini, Kawakibul Fushoha kembali dipercaya untuk mengelola dan menyembelih satu ekor sapi dan satu ekor kambing. Tak ada sekat status; semua tangan bergerak lincah memotong, menimbang, hingga mendistribusikan daging-daging tersebut secara merata kepada keluarga besar Kawakib.

Puncak dari seluruh rangkaian perayaan ini bermuara pada agenda Open House yang digelar di asrama. Acara ini dibuka dengan laporan pertanggungjawaban sekaligus sambutan hangat dari Ketua Panitia, Al-Ustadz Muhammad Dzakwan. Dalam laporannya, beliau menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kelancaran seluruh tahapan kurban, mulai dari penggalangan dana, proses penyembelihan, hingga distribusi yang tepat sasaran. Beliau juga mengapresiasi tinggi kerja keras seluruh panitia dan kekompakan para santri yang luar biasa. “Agenda kurban dan silaturahmi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penting untuk mengokohkan fondasi khidmah, melatih tanggung jawab, dan mempererat tali persaudaraan di antara kita,” tuturnya tegas.

Berbeda dari konsep tahun-tahun sebelumnya, open house kali ini menghadirkan kembali kehangatan tatap muka yang luar biasa karena dihadiri oleh para alumni yang menyempatkan hadir di tengah kesibukan mereka. Ruangan asrama penuh sesak oleh kerinduan. Riuh rendah tawa dan keharuan membubung saat perwakilan alumni, Ustadz Wildan Solihin, naik menyampaikan materi dan membagikan kisah selama dahulu berproses di asrama ini. Sesi saling menukar pengalaman tersebut membuka mata kami tentang bagaimana ketegasan serta kasih sayang Syekh dalam mendidik terbukti sukses membentuk pribadi alumni yang tangguh.

Atmosfer ilmiah yang menjadi identitas Kawakibul Fushoha tetap dihidupkan di sela-sela acara melalui pengumuman sekaligus penyerahan hadiah bagi pemenang lomba menulis maqalah (artikel) bertema Rihlah Tarikhiyyah (perjalanan sejarah). Tak kalah khidmat, Kawakibul Fushoha juga memberikan penghargaan khusus atas dedikasi, khidmah, dan jasa luar biasa yang telah dicurahkan oleh Al-Ustadz Muhammad Ilham Labib demi kemajuan asrama. Acara yang intim ini kemudian ditutup dengan momen makan bersama dari olahan daging kurban yang penuh berkah.

_DSC3589 1
_DSC3591 1

Namun, di atas semua kemeriahan tersebut, sebuah tamparan spiritual datang di penghujung acara melalui untaian nasihat dari Syekh Syarafuddin al-Azhari yang menghujam dalam ke dada seluruh anggota Kawakibul Fushoha:

تأجيل الشكر كفرٌ وتعجيل المعروف نكرٌ

Sebuah kalimat singkat yang sarat akan kedalaman makna. Jika dibaca apa adanya, bagian kedua kalimat tersebut seolah bermakna “menyegerakan kebaikan itu buruk.” Namun, dalam disiplin balaghah  dan tasawuf, untaian ini merupakan sebuah sindiran tajam.

Syaikh ingin mengingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan secara tergesa-gesa—hanya demi menggugurkan kewajiban tanpa dibersamai dengan adab, ketulusan, dan keikhlasan—nilainya justru akan jatuh menjadi sebuah keburukan (nukr). Melalui petuah ini, beliau menyadarkan kami para penuntut ilmu untuk tidak menunda-nunda rasa syukur, sekaligus menjaga hati agar setiap kebajikan tidak dikerjakan secara asal-asalan.

Di akhir tulisan ini, kami ingin menyampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada guru kami, Syekh Syarafuddin al-Azhari yang tak pernah lelah membimbing kami di negeri kinanah ini. Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada para donatur atas kepercayaannya menitipkan hewan kurban melalui Kawakibul Fushoha. Serta apresiasi tertinggi untuk jajaran panitia yang telah mencurahkan segala tenaganya demi menyukseskan acara ini. Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga serta melimpahkan keberkahan untuk Kawakibul Fushoha dan Al-Azhar As-Syarif tercinta.

Ditulis oleh: Ustadz Enricko Elsya Daniswara

Tags:

Kawakibul Fushoha , kegiatan , Makalah Indo , Qurban
Share This :

Recent Posts

Punya Pertanyaan Tentang Kawakib?

Hubungi admin di sini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *