Kawakibul Fushoha

Ketika Ilmu Bertasbih

Indo,Prestasi

Universitas Al-Azhar  merupakan salah satu universitas tertua di dunia dan menjadi rujukan ilmu bagi seluruh negeri dan para ulama, sehingga banyak orang dari segala penjuru yang berbondong-bondong untuk bisa menimba ilmu di pusat peradaban keilmuan tak terkecuali pelajar Indonesia. Termasuk di dalamnya saya, yang sejak duduk di bangku sekolah dasar bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas al azhar. Tak ingat dari mana pikiran dan keinginan itu datang, yang pasti, tertancap kuat dipikiran saya bahwa mereka yang mampu menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar adalah orang-orang yang hebat dan terlampau keren, seakan tak ada institusi pendidikan yang lebih baik melebih Azhar.

images (1)
images (2)

Sekitar 12 tahun yang lalu jumlah masisir (sebutan mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir) berada di angka 6.000 orang. Namun sampai tahun 2026 ini angka masisir membludak sampai menyentuh angka 20.000 orang yang berasal dari latarbelakang pendidikan yang berbeda-beda. Dengan skala yang sangat besar ini, tentu tidak semua yang datang ke Mesir mumpuni dalam berbahasa Arab dan tidak sedikit dari masisir yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan manhaj Azhar yang mengkolaborasikan antara turost dan sistem perkuliahan. Dari sini, lahirlah pemikiran murni dan hati yang ikhlas dari Syaikh Syarafuddin Al-Azhari untuk membantu para pelajar Indonesia dalam mengarungi samudera keilmuan yang kemudian terbentuk kelompok belajar yang beranggotakan 7 orang. Dan seiring dengan berjalannya waktu berganti nama menjadi Kawakibul Fushoha hingga saat ini. Berkiprah selama kurang lebih 20 tahun tak menjadikannya tergerus oleh zaman, Kawakibul Fushoha masih tetap berdiri kokoh mempertahankan manhaj keilmuan dan tatbiqi (penerapan).

Suatu hari, kami dikejutkan dengan kehadiran seorang senior kawakib 12 tahun yang lalu. Beliau adalah Ustadz KH. M. Fahmi Fauzan, Lc., MA., M.Pd., selaku Ketua Yayasan Ponpes Nurul Huda Kertawangunan, Kuningan, Jawa Barat. Kedatangan beliau tidak hanya sekedar bertegur sapa semata, atau melepas rindu yang sudah bertahun-tahun menguasai jiwa, melainkan ada pesan cinta yang disampaikan, layaknya bentuk kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya yang tidak ingin sang adik merasakan penyesalan dikemudian hari “Dari dulu Kawakibul Fushoha  tetap berdiri tegak dengan manhaj biatul ilmi (lingkungan keilmuan). Bahwa tidak selamanya  kita menetap di Mesir, pasti ada masanya untuk kita kembali ke tanah air mendedikasikan ilmu yang telah kita dapat kepada masyarakat. Karena ketika kalian sudah terjun langsung ke masyarakat, maka kalian akan menemui banyak sekali permasalahan yang kompleks. Mumpung kalian masih berada di biatul ilmi, fokuskan, manfaatkan dan maksimalkan, agar ketika nanti sudah kembali ke tanah air dapat berkiprah untuk masyarakat”, tutur beliau.

“العلم ليس بالتجربة لكن بالملازمة”

“Ilmu itu bukan dengan percobaan, melainkan dengan dedikasi”

Dan hal tersebut sejalan dengan tujuan didirikannya kawakib

“هدف الكواكب لخدمة الأمة

“Tujuan Kawakib adalah dedikasi untuk umat”

Ada beberapa cara yang bisa seseorang lakukan untuk dapat berkontribusi terhadap umat antara lain;

1. Harta

Seorang muslim dapat berkontribusi terhadap Islam melalui harta yang dimiliki. Sebagai contoh memberikan sumbangsih untuk pembangunan sebuah instansi pendidikan atau menyalurkan bantuan kepada saudara seiman kita yang ditindas zionis Israel, menyantuni anak yatim dan dhuafa, dan lain sebagainya.

2. Jabatan

Seorang pemimpin juga dapat berkontribusi untuk umat, misalkan dengan membuat sebuah kebijakan wajibnya zakat bagi orang yang berkecukupan, agar tercipta ekonomi yang stabil dan tidak adanya hierarki dikalangan umat. Sebagaimana yang dilakukan oleh para pemimpin terdahulu kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafaurrasyidin. Karena setiap pemimpin itu akan dipertanggungjawabkan di hari akhir. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كلكم راع فمسؤول عن راعيته فالامير الذي على الناس راع وهو مسؤول عنهم و الرجل راع على اهل بيته وهو مسؤول عنهم والمراة راعية على بيت بعلها وولده وهئ مسؤول عنهم والعبد راع على مال سيده وهو مسؤول عنه الا كلكم راع وكلكم مسؤول عن راعيته

“Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kalian semua adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang amir yang mengurusi banyak orang adalah pemimpin dan akan ditanya tentang mereka. Laki laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan akan ditanya tentang mereka. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak- anaknya dan akan ditanya tentang mereka seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan akan ditanya tentang itu, jadi setiap kalian adalah pemimpin dan kalian semua akan bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. {HR Bukhari 2554}

3. Ilmu

Seseorang dapat berkontribusi terhadap umat dengan ilmu yang dimiliki. Dan ini yang menjadi fokus kita sebagai penuntut ilmu. Terbang tinggi melewati berbagai negara untuk menuntut ilmu  dengan harapan ilmu tersebut dapat disalurkan kepada umat. Ilmu yang bermanfaat juga akan senatiasa mengalir kebaikan meskipun pemiliknya sudah meninggal. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam;

عن ابي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika anak adam meninggal, terputus amalnya, kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya. {HR Muslim 1631}

4. Tenaga

Sejatinya Allah sudah memberikan kemampuan kepada manusia sesuai dengan porsinya masing-masing. Ada yang Allah titipkan harta yang banyak, ada juga yang Allah titipkan ilmu yang bermanfaat agar dapat disalurkan kepada umat, ada juga yang Allah titipkan jabatan dan kekuasaan yang bisa menjadi power untuk kemaslahatan umat.  Begitu pula dengan mereka yang Allah titipkan fisik yang kuat dapat ikut berkontribusi untuk Islam dan umat, misalkan menjadi sukarelawan di posko bencana alam dan lain sebagainya.

Melihat posisi kita sebagai penuntut ilmu, kontribusi yang dapat kita implementasikan adalah dengan ilmu. Dan dibutuhkan pengorbanan dan jihad semasa menuntut ilmu agar kontribusi yang diberikan bisa maksimal. Sebagaimana ungkapan Syaikhuna Jalil Syarafuddin Al-Azhari;

ليتصل العلم ليس سهلا، طالب العلم لا بد مشغول بالعلم

“Untuk sampai kepada ilmu itu tidaklah mudah, seorang penuntut ilmu harus sibuk dengan ilmu”

Kalau kita tilik dari sisi perfilman, yang terkenal dengan tajuk ketika cinta bertasbih, maka bagi thalibul ilmi seharusnya masyhur dengan ketika ilmu bertasbih yang menjadi simbol pencapaian hakiki maka inilah yang dinamakan cinta yang sebenarnya. Namun untuk mencapai titik tersebut tentu tidak mudah, dibutuhkan istiqomah yang kuat. Dan keistiqomahan tersebut bisa didapati dari lingkungan yang baik dan lingkaran pertemanan dengan visi yang sama, karena

الإنسان ابن البيئة

“Manusia itu adalah anaknya lingkungan”

Maksud dari ungkapan tersebut adalah baik buruknya seseorang  bisa dilihat dari lingkungan mana dia hidup dan tinggal. Kehidupan itu mengajarkan banyak hal, ketika seseorang hidup di lingkungan ilmu dan ulama, maka bisa dipahami bahwa orang tersebut tumbuh di lingkungan yang baik dan senantiasa dikelilingi oleh ilmu. Selain dari dua faktor tersebut, ada faktor lain yang tak kalah penting dalam menjaga keistiqomahan seseorang adalah menghindari ketenaran atau popularitas. Dalam artian bukan berarti tidak boleh menjadi terkenal, namun jangan sampai menjadikan popularitas sebagai tujuan akhir dari segalanya. Karena hal tersebut, bisa mencemari keikhlasan seseorang dalam berbuat kebaikan.

_DSC3173 1

Alhamdulillah syukur yang tiada henti saya ucapkan kepada Allah Ta’ala yang telah menuntun saya ke biatul ilmi Al-Azhar Asy-Syarif dan Kawakibul Fushoha, sehingga bisa mencicipi manisnya ilmu. Dan merupakan salah satu nikmat terbesar di hidup saya adalah dipertemukan dengan seorang muallim sekaligus murobbi bagi ruh yang gersang akan siraman cahaya Robbi. Semoga Allah senantiasa membersamai beliau dalam setiap langkah yang ditempuh. Semoga Allah tak pernah bosan melimpahkan taufik dan hidayah-Nya selalu kepada kita, agar senantiasa berada di barisan terdepan, serta menjadi penegak dan pembela agama Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ditulis oleh: Ustadzah Ulfa Hasanah

Tags:

Kawakibul Fushoha , Kunjungan Senior , Makalah Indo , Prestasi
Share This :

Recent Posts

Punya Pertanyaan Tentang Kawakib?

Hubungi admin di sini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *