Kawakibul Fushoha

Bukti Cinta yang Nyata

Indo,Kegiatan

Daurah Al-Qur’an di Kawakib adalah masa yang meningkatkan semangat secara drastis. Terutama bagi saya, karena saya yang merupakan mahasiswa  dengan riwayat belum tuntas menghafal Al-Qur’an, lama tidak menambah hafalan, juga perbedaan manhaj dalam menghafal, nasihat dari Syekh Syarafuddin Al-Azhari hafidzahullah adalah agar saya merubah mindset dari dalam diri saya jika ingin berhasil.

Mayoritas manusia yang melabeli diri sebagai penuntut ilmu di akhir zaman ini terlalu terburu-buru dalam mempelajari sesuatu. Ketika kata sabar dianggap bodoh atau membosankan karena katanya hanya mengulang tanpa hasil, sedangkan ilmu adalah pengulangan, semakain diulang, maka semakin kuat menancap suatu ilmu dalam diri seseorang.

“العلم تكرار، كلما تكرر تقرر”

Dzikirnya penuntut ilmu ada pada proses mengulang yang telah ia pelajari, maka memutuskan untuk menghafal Al-Qur’an juga banyak matan di waktu yang sama adalah rakus tanpa memperhatikan kemampuan diri, apalagi jika memaksa memahami semua yang dihafal saat itu juga.

Kawakib dengan hafalan matan dan kegiatan lainnya di asrama, daurah adalah waktu memaksakan diri untuk fokus pada satu target, kesempatan emas dalam menyelesaikannya secara maksimal. Mencoba merasakan fokus pada satu hal, sabar, juga tak putus asa dalam menghadapi hari demi hari karena waktu yang terbatas, merupakan beberapa hal yang baru disadari nilainya oleh saya ketika daurah. Meskipun prosesnya tidak semulus yang dibayangkan (karena menemukan kebingungan antara harus memaksimalkan kuantitas atau kualitas), alhamdulillaah Allah selalu bantu dalam berproses, yang mulanya fokus pada rasa bingung dalam mencari cara menghafal cepat agar mencapai target, lalu merasakan nikmat mengejar kuantitas juga berusaha dalam kualitas, (pada permulaan prosesnya seseorang cenderung melewati kuantitas sebelum kualitas). Semoga selanjutnya, setiap yang berusaha dapat meningkatkan kemampuannya menuju kualitas terbaik dalam mengulang, menikmati, dan mentadaburi makna setiap ayat, bahkan huruf yang ada. Aamiin.

Tentunya nasihat syekh agar kami bisa mencapai keduanya, mungkin itu yang membuat saya pesimis di awal, merasa tak sanggup. Namun beliau juga mengingatkan bahwa seorang guru tak memberikan tugas yang tak dapat dilalui oleh murid.  Mengingatkan kami pula agar melihat latar belakang cerita para ulama, lalu latar belakang diri masing-masing dalam menuntut ilmu. Jika menilik cerita ulama, akan ditemukan bahwa mayoritasnya memiliki latar belakang bersama ilmu sejak kecil. Masa kanak-kanak dipakai untuk menghafal Al-Qur’an, sedangkan penulis (juga mungkin banyak manusia di zaman yang sudah terpengaruh budaya barat ini) sangat sedikit membaca Al-Qur’an hingga akhir kecuali pada bulan ramadhan, apalagi untuk mentaddaburi. Maka dengan usaha yang jujur dari para penuntut ilmu beserta doa dari syekh, semoga Allah bersamai proses meningkatnya kuantitas juga kualitas hafalan Al-Qur’an kami, baik sedikit demi sedikit ataupun berupa perubahan pesat yang tak pernah dikira sebelumnya, jauh lebih indah, lebih baik dari yang dibayangkan.

Syekh memahami karakter muridnya yang berbeda dengan beliau dalam banyak hal, baik karena perbedaan latar belakang daerah, maupun pendidikan karakter dari keluarga juga sekolah kami. Beliau terus bersabar mengenali, menghadapi, dan memahami karakter yang bermacam-macam dari para murid, lebih-lebih beliau mencoba untuk membenahi penyakit hati yang mungkin tak kami sadari sebelumnya, seperti saya yang masih sering merasa pesimis, maka inilah proses yang tersisa, apakah “ingin menjadi lebih baik” itu benar adanya?.

Mengingat nasihat syekh pada kami untuk terus menguatkan diri saya juga setiap bertemu beliau adalah nikmat yang menjadi alasan untuk bertahan. Hidup syekh yang selalu menerapkan Al-Qur’an di setiap aktivitas, mengajak muridnya,me-murojaah ketika belajar Ilmu Nahwu, menegur kami agar tidak boros dalam penggunaan air dengan dalil وجعلنا من الماء كل شيء حي adalah salah satu gambaran cinta yang nyata dari beliau terhadap Al-Qur’an. Kegiatan rutin di Kawakib, berkumpul di hari Jumat (hari istemewa bagi umat Islam di setiap pekannya) merupakan bukti cinta nyata beliau terhadap ajaran agama Islam dalam meletakkan jadwal berkumpul, lalu mengisinya dengan lebih banyak dzikir adalah hal yang sesuai sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Perkumpulan yang di dalamnya  beliau menyimak setoran kami, lalu menyampaikan nasihat yang menguatkan proses menghafal, juga nasihat kehidupan adalah nikmat-nikmat yang jarang disadari, Padahal  di dunia akhir zaman ini, nilainya sangatlah mahal, sebab sekarang, dunia semakin menyembunyikan benar salah, membatasi sumber informasi yang benar, bahkan memutarbalikkan fakta yang ada, membuat kita semua tak peduli atas saudara kita yang sedang menghadapi musuh Islam di luar sana. Sehingga muncul perasaan seolah dunia hanya tentang kenikmatan yang dipamerkan, tentang diri dan keluarga masing-masing, sedang di sana ada ukhuwah Islamiyyah yang terabaikan.

Pelajaran dan nasihat yang syekh berikan tertulis pada diktat kuliah Al-Azhar, maka semakin terasa lebih dekat dengan cara beliau menyampaikan, menyimak setoran Al-Qur’an kami, menyemangati kami untuk terus kembali ke sumber utama agama yang sudah jauh dari para pemeluknya (Al-Qur’an dan Sunnah), juga menumbuhkan rasa cinta pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Bahkan akhlak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam semakin baik tergambar dalam diri kami saat melihat perbuatan juga mendengar perkataan beliau, apalagi kesabaran beliau dalam menghadapi “penuntut ilmu” di akhir zaman ini. Beliau tak menyerah dengan keadaan lalu egois pulang ke tanah air, menikmati waktu beliau bersama keluarga, atau memutuskan mengajar penuntut ilmu dari daerah beliau saja. Beliau justru lebih memilih mengajar mahasiswa Indonesia dengan julukan negara mayoritas Islam, berharap Islam bisa kembali hidup di masyarakatnya. Bismillaah Allah bersamai, berkahi, juga selalu membantu segala tujuan mulia dengan setiap langkah juga usaha beliau, hafidzahullaahu ta’aalaa wara’aah dalam mengabdi untuk ilmu dan agama. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.

 

Penulis: Ustadzah Nabilah Nurul Fathiyah

Tags :
Dauroh , Kawakibul Fushoha , kegiatan , Makalah Indo
Share This :

Recent Posts

Punya Pertanyaan Tentang Kawakib?

Hubungi admin di sini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *